Sekolah ALam & Paulo Freire..o_O..?

Fenomena sekolah alam yang muncul sebagai sebuah lembaga pendidikan alternatif dapat kita telaah sebagai suatu antitesis yang muncul karena ada ‘ketidakberesan’ dalam sistem pendidikan yang termanifestasi dalam bentuk sekolah-sekolah konvensional. Mendasarkan dari dasar filosofi dan pemikiran seorang Paulo Freire serta melihat dari latar belakang masalah yang telah dijelaskan, sekolah alam yang muncul sebagai lembaga pendidikan alternatif adalah sebuah reaksi dari terjadinya ‘dehumanisasi’ akibat ‘penindasan’ yang sudah membudaya di sekolah-sekolah konvensional. Dalam bahasa Freire, dehumanisasi berarti keadaan dimana seseorang kurang dari manusia atau tidak lagi manusia (Freire dalam Naomi,1998; 434).  Dehumanisasi adalah bentuk ungkapan nyata dari proses alienasi dan dominasi (Freire, 2000; 188). Dehumanisasi bukan hanya menandai mereka yang kemanusiaannya telah dirampas, melainkan (dalam cara yang berlainan) menandai pihak yang telah merampas kemanusiaan itu, dan merupakan pembengkokan cita-cita untuk menjadi manusia yang lebih utuh (Freire dalam Naomi, 1998; 434).

Pandangan dehumanisasi dan pemikiran yang dinyatakan oleh Freire berlatar belakang dari perjuangannya dalam situasi tidak menguntungkan yang terjadi di dalam masyarakat Brasil kala itu. Saat itu tipologi masyarakat Brasil masih dalam konstruksi feodal dimana masyarakat terbagi dalam dua golongan yang dalam bahasa Freire, Beliau menggunakan istilah golongan tertindas yaitu masyarakat yang tingkat pendidikannya masih sangat rendah dan golongan penindas, yaitu golongan pemerintah dan elite kelas atas. Freire yang dilahirkan di salah satu daerah pinggiran dan kemudian melakukan upaya pemberantasan buta huruf untuk petani-petani Brasil. Penindasan yang dimaksudkan disini dilakukan secara struktural oleh kalangan penguasan dan golongan elite / kelas atas tehadap golongan yang lebih rendah di bawah mereka.

Secara garis besar, dehumanisasi yang terjadi pada seseorang atau kepada suatu masyarakat saya tandai dengan :

  1. Kebudayaan bisu. Menurut Freire, digambarkan sebagai suatu kondisi kultural sekelompok masyarakat yang ciri utamanya adalah ketidakberdayaan dan ketakutan umum untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan sendiri, sehingga “diam” nyaris dianggap sesuatu yang sakral, sikap yang sopan dan harus ditaati.
  2. Ketergantungan. Ketergantungan yang dimaksud disini adalah ketidakmampuan golongan bawah untuk menjadi pelaku sejarah sebagai pelaku atau subjek dan bukan objek penderita. Ini terjadi karena golongan bawah dibuat tidak berdaya sehingga tidak mampu berbuat apa-apa dan seakan tergantung terhadap nasib (fatalisitis) serta bergantung kepada golongan yang lebih tinggi.
  3. Kesadaran kritis yang terkekang – karena memang seakan tidak diperbolehkan untuk ada -. Masyarakat di’proteksi’ untuk tidak boleh berpikir kritis karena dikhawatirkan oleh penguasa akan mengganggu status quo mereka.
  4. Masyarakat yang hanya bisa ‘nrimo dan tidak mampu berpikir kritis.
  5. Dalam situasi yang fatal, bahkan mereka – golongan yang tertindas – takut kalau mereka sebenarnya sadar mereka tertindas.

Secara singkat, dehumanisasi terjadi karena ‘bahasa’ sebagai representasi dari realita telah menjadi kebisuan. Mereka yang terkena dehumanisasi sebenarnya telah terperangkap dalam budaya bisu, mereka tidak sadar kalau mereka bisu dan dibisukan. Dalam tesisnya, Freire menyusun tipologi kesadaran sebagai kerangka penjelasan dehumanisasi dengan berdasarkan kerangka filsafat bahwa manusia adalah subjek aktif kehidupan. Freire menjelaskan proses dehumanisasi tersebut dengan analisis kesadaran atau pandangan hidup masyarakat terhadap diri mereka sendiri yang digolongkan menjadi 4 tipologi kesadaran, yaitu :

Pertama, kesadaran magis (magical consciousness) dimana seorang manusia tidak mampu memahami realitas disekitarnya sekaligus dirinya sendiri. Bahkan dalam menghadapi kehidupan sehari-harinya ia lebih percaya pada kekuatan takdir yang telah menentukan dan melihat kebenaran sebagai dogma (fatalis).

Kedua, kesadaran naif (naival consciousness) dimana seseorang mengerti akan adanya permasalahan namun kurang bisa menganalisa persoalan-persoalan sosial tersebut secara sistematis. Pendidikan dalam konteks ini tidak pernah mempertanyakan keabsahan sebuah sistem dan struktur yang salah.

Ketiga, kesadaran kritis (critical consciouness). Dalam tingkatan kesadaran ini, seseorang telah mampu menggabungkan antara kemampuan analitis sekaligus praksis. Dia dapat memahami persoalan sosial mulai dari pemetaan masalah, identifikasi serta menentukan unsur-unsur yang mempengaruhinya dan kemudian menawarkan solusi-solusi alternatif dari suatu problem sosial. Keempat, kesadaran transformatif yang merupakan puncak dari kesadaran kritis atau sering disebut ’kesadarannya kesadaran’ (the conscie of the consciousnes). Dalam tingkatan ini, antara ide, perkataan, tindakan, dan progresifitas berada dalam posisi seimbang. Dalam konteks dehumanisasi, maka  yang terjadi sebagai akibat dari perilaku sistem yang tidak adil dan menindas pada akhirnya selalu menempatkan seseorang berada dalam kesadaran magis.

Lebih lanjut, pemikiran pendidikan Freire juga timbul sebagai reaksi dari konstruksi pendidikan ‘gaya bank’ (banking concept of education). Pendidikan ‘gaya bank’ dikritik oleh Freire dikarenakan menganggap peserta didik / nara didik sebagai objek, bukan subjek atau pelaku. Dalam sebuah ruangan kelas, guru hanya memindahkan dalil, rumus-rumus dan sejumlah ketentuan- ketentuan lainnya yang sering kali tidak bisa dipertanyakan ke nara didik. Semakin banyak ‘wadah’ ini menerima dan menyimpan, maka semakin bagus gurunya. Semakin patuh nara didik ini, maka semakin baguslah ia. Hal ini sebenarnya merupakan proses dehumanisasi karena seorang nara didik sudah tidak dianggap dan tidak dididik sebagai manusia yang memiliki kemampuan untuk menganalisa dan berpikir kritis. Manusia dipandang sebagai sebuah jaringan biologis yang mekanis, ditekan untuk memiliki kesadaran subyektif tentang sesuatu. Mengetahui tanpa memahami. Menurut Freire, manusia adalah pelaku aktif sebagai subyek yang akan mencetak sejarahnya sendiri, bukan sebagai obyek penderita. Manusia tidak beraksi refleks, tetapi manusia akan melakukan pemilihan, pengujian, pengkajian dan pengujian ulang dalam melakukan sesuatu.

Sebagai reaksi dari dehumanisasi yang terjadi, Freire kemudian melakukan humanisasi yang bertujuan untuk menjadikan menusia sebgai mahluk yang bebas, merdeka dan menjadi penguasa atas dirinya sendiri. Cara untuk melakukan humanisasi menurut Freire adalah melalui upaya penyadaran dan penggunaan bahasa – kegiatan pendidikan – sebagai instrumen utama dalam proses penyadaran dan pemunculan budaya untuk berpikir secara kritis dalam diri masyarakat untuk mengungkapkan realitas. Bagi Freire, pendidikan adalah alat untuk memperoleh kesadaran kritis dan untuk melakukan perlawanan. Dengan pendidikan, seorang manusia memiliki kesadaran akan sesuatu. Jika seseorang – dalam hal ini, kita kaitkan dengan diri nara didik – sudah mampu mencapai tingkat kesadaran kritis terhadap realitas, orang itu pun mulai masuk ke dalam proses pengertian dan bukan  proses menghafal semata. Seorang yang mengerti bukanlah orang yang menghafal, karena ia menyatakan diri atau sesuatu berdasarkan suatu “sistem kesadaran”, sedangkan orang yang menghafal hanya menyatakan diri atau sesuatu secara mekanis tanpa (perlu) sadar apa yang dikatakannya, dari mana ia telah menerima hafalan yang dinyatakannya itu, dan untuk apa ia menyatakannya kembali pada saat tersebut. Apabila dikorelasikan dengan dehumanisasi yang terjadi akibat kebungkaman ‘bahasa’ sebagai representasi dari realita yang mengalami kbisuan, di situlah letak berikut arti penting dari kata-kata sebagai penyusun bahasa, karena kata-kata yang yang dinyatakan seseorang sekaligus mengawali dunia kesadarannya, fungsi interaksi antara tindakan dan pikirannya.

Lebih lanjut, Freire menyatakan bahwa penyadaran merupakan inti dari proses humanisasi karena dengan aktif bertindak dan berpikir sebagai pelaku – bukan sebagai objek penderita saja – dan dengan terlibat langsung dalam permasalahan yang nyata, serta dalam suasana yang dialogis, maka pendidikan kaum yang tertindas dengan segera akan menumbuhkan kesadaran yang menjauhkan seseorang dari “rasa takut akan kemerdekaan (fear of freedom)”. Dalam pendidikan yang memicu kesadaran, tercipta proses konsientisasi yang diartikan Freire sebagai proses di mana manusia berpartisipasi secara kritis dalam aksi perubahan. Dari berbagai pemikiran Freire tentang penyadaran, pendidikan sebagai alat perlawanan, dan proses konsientisasi tadi, prinsip yang digunakan oleh Freire dalam proses humanisasi terikrar menjadi dua pernyataan, yaitu pendidikan yang membebaskan dan pendidikan yang memanusiakan. Dalam pandangan Paulo Freire, pendidikan yang mebebaskan dan memberdayakan adalah suatu pendidikan dimana seorang nara didik mampu mendengarkan suara aslinya sendiri, bukan suara-suara dari luar, bahkan suara dari guru didiknya. Berdasarkan pemahaman ini, dapat dikatakan bahwa pendidikan yang membebaskan adalah pendidikan yang bebas dari tekanan apapun yang mengekang seseorang untuk mampu berpikir secara kritis. Sedangkan pengertian pendidikan yang memanusiakan adalah pendidikan yang memungkinkan manusia untuk kembali ke fitrahnya sebagai seorang manusia yang bebas, merdeka dan tidak tertindas atau tertekan.

Dalam konteks pendidikan di Indonesia, pemikiran dan prinsip Paulo Freire dapat digunakan untuk menelaah terjadinya pola ‘penindasan’ dalam sistem pendidikan di Indonesia. Walalupun dengan latar belakang yang cukup berbeda, ada beberapa pola persamaan mengenai ‘penindasan’ yang dikemukakan oleh Freire di dunia Brasil dengan yang terjadi di Indonesia. Dalam sistem pendidikan yang selama ini ada di Indonesia, disadari atau tidak, telah terjadi dehumanisasi. Dehumanisasi yang terjadi telah terimplikasi dalam proses pendidikan dan aktivitas belajar di sekolah-sekolah – lebih dalam lagi, aktivitas belajar di dalam ruangan kelas – pada umumnya, dengan ciri-ciri yang sama seperti yang sudah dikemukakan di atas, adanya ketergantungan, membudayanya budaya bisu, kesadaran kritis yang terkekang, komunitas yang hanya bisa ‘nrimo dan tidak mampu berpikir kritis-analitis, dan mereka sebagai komunitas yang tidak sadar bahwa sebenarnya mereka mengalami penindasan.

One comment on “Sekolah ALam & Paulo Freire..o_O..?

  1. tolong aku kirimin tengtang keritis dan radikal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s