Kurikulumnya berat ya, ‘de..T_T..

Salah satu sebab internal yang kerap menjadi sebab masalah dapat dimulai dari kurikulum pendidikan di Indonesia yang dinilai ekstra berat. Kita bisa mulai melihat dari tingkat Sekolah Dasar (SD). Dari tingkat dasar, kurikulum telah disusun sedemikian rupa yang tanpa disadari sebenarnya telah menimbulkan masalah. Selama ini kurikulum pendidikan kita secara umum, disadari atau tidak memiliki seperti yang  sama seperti kurikulum yang menurut Paulo Freire adalah kurikulum bergaya ‘bank’ (banking concept of eduction). Anak didik dianggap sebagai obyek investasi dan sumber deposito potensial. Depositor atau investornya adalah para guru yang mewakili lembaga-lembaga kemasyarakatan mapan dan berkuasa, sementara depositonya berupa ilmu pengetahuan yang diajarkan kepada anak didik. Anak didik pun lantas diperlakukan sebagai sebuah ‘bejana kosong’ yang akan diisi sebagai sarana tabungan atau penanaman ‘modal ilmu pengetahuan’ (Freire, 2000: xi). Dalam bukunya, GKR Pembayun menyatakan bahwa praksis pendidikan saat ini merupakan praktek suap pengetahuan yang hanya menghasilkan makelar-makelar pengetahuan dan menjadi manusia tergantung (Pembayun dalam Aulia, 2002 : xii).

Kurikulum pada tingkat sekolah dasar sampai pada saat ini benar-benar memberikan beban yang melelahkan bagi anak-anak di tingkat SD. Hal ini umumnya sering terjadi pada negara-negara berkembang seperti Indonesia, Korea Selatan, Singapura atau Taiwan (http://www.antaranews.com). P.H. Coombs mengemukakan bahwa masih belum memadainya sistem pembelajaran di sekolah-sekolah kita tidak lepas dari faktor kurikulum yang terlalu padat dan kurang fleksibel. Pendidikan sekolah di Negara-negara berkembang cenderung memiliki kurikulum yang terlalu padat atau sarat beban –overloaded curriculum– (A. Atmadi (ed.), 2000). Dengan dalih untuk menciptakan kemajuan dan mendongkrak citra dan kualitas pendidikan, maka negara merumuskan kurikulum yang telah disusun sedemikian rupa dengan asumsi bahwa kurikulum seperti itu akan mendukung negara mencapai keberhasilan mutu sumber daya manusia yang baik. Tetapi alih-alih baik, kurikulum yang sarat akan beban ini kemudian berimplikasi negatif kepada sistem pendidikan. Dampak selanjutnya,kurikulum seperti ini akhirnya memberikan beban kepada siswa SD. Jam belajar dalam satu minggu yang dilakukan oleh anak-anak SD di Indonesia mencapai 42-47 jam, bahkan bisa mencapai 58 jam. Sedangkan di Negara Korea Selatan, jam belajar untuk siswa SD mencapai 50 jam, padahal di Negara  Finlandia yang merupakan negara dengan kualitas pendidikan terbaik di dunia, jumlah jam belajar yang dialokasikan oleh pemerintahnya hanya mencapai 30 jam perminggunya (http://www.antaranews.com). Pada sistem pendidikan Indonesia, jumlah jam mata pelajaran yang terlalu lama adalah salah satu alasan siswa menjadi jenuh. Jika UNESCO menyaratkan 800-900 jam mata pelajaran / tahun untuk SD, Indonesia justru memberlakukan 1200 sampai 1400-an jam pertahunnya (Republika, 2006).

            Efek yang muncul selanjutnya adalah dalam setiap harinya, seorang siswa SD harus membawa minimal 16 buku di dalam tasnya yang terbagi sesuai dengan jumlah mata pelajaran yang umumnya diterapkan di Indonesia. Jumlah buku tersebut terdiri dari 4 buku bahan bacaan sebagai buku panduan cetak, 4 buku tugas sekolah, 4 buku tugas pekerjaan rumah (PR) dan 4 buku catatan (http://www.cybertokoh.com). Seorang peneliti pendidikan menulis bahwa menurut temuannya, rata-rata setiap murid SD kelas 3 sampai kelas 6 dalam setiap kuartal mempelajari sejumlah buku yang apabila ditimbang beratnya mencapai 43 Kilogram (Eko Prasetyo, 2006: 12). Jumlah buku yang dibawa oleh siswa merupakan salah satu cerminan mengenai kurikulum yang digunakan di Indonesia. Pergantian kurikulum seringkali digunakan dengan alasan untuk mendongkrak citra dan kualitas pendidikan di Indonesia. Telah tercatat bahwa kurikulum di Indonesia sudah mengalami pergantian beberapa kali, mulai dari kurikulum tahun 1964, kurikulum tahun 1969, kurikulum tahun 1975, kurikulum tahun 1994, sampai kepada Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) pada tahun 2004 dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang mulai digunakan mulai tahun 2006 yang lalu.

            Pergantian kurikulum dilakukan dengan asumsi yang muncul bahwa dengan mengubah kurikulum berarti sudah mengubah sekolah dan elemen-elemen yang bersinggungan dengannya, yang kemudian pada akhirnya akan mempengaruhi kualitas hasil pendidikan siswa. Pakar pendidikan, Winarno Surahmadi menyatakan bahwa perubahan kurikulum terbukti tidak dapat mendongkrak kualitas pendidikan di Indonesia karena justru mematikan daya kritis dan kreativitas siswa (http://portal.smpn2-mgl.sch.id). Hal ini kemudian diperparah dengan adanya Ujian Nasional (UN) yang mengerucutkan hasil kerja keras siswa (untuk tingkat SD) selama 6 tahun ke dalam beberapa hari UN saja. Winarno melanjutkan, “percuma kurikulum bagus, tetapi hanya diukur oleh UN”. Akibat yang terjadi adalah pendidikan justru kehilangan esensinya karena tidak dapat memberi makna bagi kehidupan siswa. Lebih lanjut, dalam kesempatan lain beliau juga menyatakan bahwa pendekatan UN yang berorientasi pada output – yaitu dengan cara penetapan angka kelulusan yang tinggi -, kurang memperhatikan proses, padahal dalam dunia pendidikan proses merupakan bagian yang sangat penting (Kompas, 2008). Pengamat pendidikan dari Universitas Paramadina, Mohammad Abduhrazen mengatakan bahwa alasan utama penyelenggaraan UN, yakni agar siswa terpacu dan belajar keras jelas tidak terbukti (Kompas, 2007).

            Dampak selanjutnya dari kurikulum yang dinilai oleh banyak pihak terlalu padat (overloaded curicculum), secara tidak disadari telah menyebabkan beban kognitif yang besar. Kurikulum yang men’dewa’kan aspek kognitif sebagai satu-satunya penilaian mutlak dituding telah ikut memicu rendahnya HDI sebagai perhitungan kualitas manusia Indonesia dan kualitas pendidikan di Indonesia. Beban kognitif yang sedemikian besar dinilai telah mengabaikan aspek afeksi dan aspek psikomotorik dari peserta didik. Hal ini menyebabkan lemahnya interpersonal skills seperti rendahnya daya saing untuk berkompetisi secara positif, tumpulnya kreatifitas dan rendahnya produktivitas (Fitria Ulfah, 2005). Ketua Komnas perlindungan anak, Dr. Seto Mulyadi menilai beban kurikulum yang terlalu berat dan sedikitnya ruang bagi tumbuhnya kreativitas anak menyebabkan sekolah menjadi seperti ‘penjara’ bagi peserta didik. Ia berkata bahwa sistem pendidikan di Indonesia memperlakukan anak seperti robot, “anak ke sekolah harus membawa ‘koper’ berisi banyak buku, sampai di rumah harus mengerjakan pekerjaan rumah (PR), habis itu terus teler” (http://www.antaranews.com//sekolahjadi-penjara-bagi-anak). Beliau juga mengingatkan bahwa kurikulum pendidikan dasar di Indonesia terlalu padat, sehingga kurang memberi ruang ekspresi dan kreativitas bagi peserta didik. Padahal pendidikan nasional bertujuan mengembangkan segenap potensi peserta didik, bukan hanya menciptakan robot atau bebek-bebek.

            Dampak lain dari kurikulum yang diterapkan ini adalah besarnya potensi untuk menyebabkan tingkat stress peserta didik menjadi naik. Secara kronologis, seorang peserta didik akan berangkat menuju sekolah setiap pagi, duduk manis di dalam ruangan kelas, melihat dan mendengarkan guru menjelaskan pelajaran, pemberian tugas rumah (PR), pulang ke rumah –tidak sedikit yang kemudian harus pergi menuju tempat bimbingan belajar- kemudian di rumah harus mengerjakan PR – agar selamat dari ‘amukan’ orang tua dan guru di sekolah pada keesokan harinya. Boleh jadi realitas tersebut tidak mudah untuk dielakkan. Stress pada peserta didik sering disebut sebagai academic stress. Stress akademik seperti ini sering terjadi sebagai akibat dari beratnya kurikulum yang berkorelasi terhadap keinginan dan campur tangan orang tua yang berlebihan karena menginginkan anaknya untuk pintar – versi orang tua, termasuk di dalamnya selalu mengerjakan PR, belajar dan jarang main -, dan berprestasi, serta sebagai akibat dari strategi pembelajaran yang diimplementasikan oleh guru. Menurut ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak, Dr. Seto Mulyadi, karena beban di sekolah berat, maka tidak mengherankan apabila ada sebagian peserta didik pada saat ini yang mengidap fobia sekolah (school phobia), yang manifestasinya bisa bermacam-macam, misalnya merasa sakit, tidak enak badan, dan lainnya (http://www.antaranews.com). Dampak lain dari beban kurikulum yang berat ini juga direspon oleh Direktur Denpasar Children Centre (DCC), Ir.I.G.A. Oka Suryawardani, M.Mgt yang menyatakan bahwa beban di sekolah bisa menyebabkan psikis anak terusik. Tidak jarang dilihat banyak anak yang malas belajar karena jenuh dengan beban pelajaran yang ada. Bahkan ada yang stress (http://www.cybertokoh.com/mod).

            Dampak lain lagi dari kurikulum yang sarat beban dan sentralisitik ini adalah menyebabkan terfragmentasinya para peserta didik dari realitas masyarakat sekitarnya. Salah satu bentuk kegagalan pelaksanaan kurikulum di masa lalu adalah adanya penyeragaman kurikulum di seluruh Indonesia, tidak melihat kepada situasi riil di lapangan, dan kurang menghargai potensi keunggulan lokal. Sekolah lambat laun menjadi tempat yang memisahkan dan kemudian menjauhkan seorang peserta didik dari realitas lingkungan. Eko presetyo menulis bahwa anak sekolah menjadi pintar di sekolah, tapi merka terisolasi dari dunia luar oleh ilmu mereka sendiri, jadi bebal lingkungan. Siswa sekolah dibiasakan, dalam istilah Jonathan Kozol, menatap penderitaan, kemiskinan tanpa rasa mengamuk. Sekolah menjadi seperti sebuah sangkar, dimana anak-anak dikurung dan harus percaya kalau di dunia luar sana, semua masalah sudah ada yang membereskan (Prasetyo, Eko, 2006: 114). Hal ini mungkin terjadi dikarenakan oleh kebiasaan membawa anak keluar kelas untuk mengenali lingkungannya telah lama hilang (Sintha Ratnawati, 2002 : 114). Padahal, untuk menciptakan pendidikan dan pembelajaran yang baik dan tidak tercerabut jauh dari masyarakat adalah dengan cara menyeimbangkan dan mensinergikan antara pembelajaran secara teoritis dengan pelaksanaan pembelajaran secara langsung dengan melakukan kontak dan pengamatan langsung di lapangan.

6 comments on “Kurikulumnya berat ya, ‘de..T_T..

  1. Solusi paling bijak adalah kita mnegatasi masalah ini secara komprehensif dan proporsional, jangan satu aspek saja. Tragis memang menjadi siswa jaman sekarang..dengan jam belajar yang cukup panjang, masih dibebani dengan tugas2 yang sueeepeeer buanyak! Mereka harus bangun pagi dan pulang sore, sesampainya dirumah membuat PR hingga mata terkantuk2…Syukurnya sabtu libur, tapi tetap saja ini tidak proporsional..karena bersosialisasi tetap dibutuhkan untuk perkembangan mental dan jiwa sosial mereka, kan?
    Lebih enak jadi mahasiswa memang, jam kuliah bisa diatur, fasilitas sudah disediakan di kampus…mau berorganisasi, dosen tidak melarang bahkan direkrut menjadi petinggi di kampus bagi kawan2nya.

    Idealnya memang siswa adalah bejana kosong yang siap diisi dengan apapun,dan tidak salah juga jika seorang guru bersikap dominasi terhadap siswanya. Yang perlu disampaikan adalah komunikasi guru terhadap siswa2nya untuk mendidik mereka dengan pendewasaan, jika yang diharapkan adalah pembelajaran yang demokratis (tidak bertumpu pada satu cara pengajaran)dan juga peran keluarga di luar sekolah.
    Bagaimana pun, siswa masih sangat membutuhkan supervisi.

  2. Assaalaamu’alaikum Wr.wb..
    Ukhti, anak bukan sebuah bejana kosong, paradigma yang menempatkan seorang anak sebagai fokus utama pembelajaranlah yang menyebabkan pembelajaran berjalan secara tidak seimbang. Setiap anak adalah pribadi-pribadi yang mempunyai karakteristik dan pola pikir yang amat unik dan akan berbeda dari satu dengan yang lain. ini berkaitan dengan metode pembelajaran yang dilakukan oleh guru, dan tidak terlepas juga dari keadaan lingkungan anak yang bersangkutan. Kalau insyaAllaah kita bisa bertemu, saya akan jelaskan mengenai ini.
    Btw, syukron ya buat tanggapannya ^^.

  3. Pendidikan yang sekarang lebih mengarah pda LIBERALISME, ketika mereka masuk sekolah harus membayar jutaan rupiah. Semakin menciptakan image buruk dalam masyarakat, ketika hanya mereka yang berduit yang mampu bersekolah. Ironi , ketika pendidikan digembor2kan murah, tapi sekolah bersama komite bekerja sama memalak para siswa”.

  4. @Cah Gebleg:
    Dalam persepsi saya, sebetulnya pendidikan kita memang sudah mengarah ke arah liberalisme sejak beberapa tahun yang lalu, biaya sekolah yang merangkak naik, iuran kelas, seragam, buku-buku, bahkan orang tua masih harus dibebankan dengan iuran perpisahan yang jumlahnya tidak sedikit, tragis memang. Sekolah dan universitas menjadi layaknya menara gading eksklusif yang hanya bisa diakses oleh golongan terbatas, terkesan diskriminatif tapi itulah faktanya. Nah, sekarang mari kita berpikir jernih, apabila kita memang sebagai warga negara kecil yang belum bisa melakukan perubahan struktural dan sistemik untuk kemajuan pendidikan Indonesia, maka mari kita mengubah persepsi kita mengenai konsep liberalisme pendidikan dalam arti yang baik. Sebagai contoh, liberalisme mampu mengajarkan kita mengenai kompetisi yang mengedepankan kompetensi sehingga mampu memacu peserta didik menjadi lebih bersemangat dalam belajar dan menyumbang sesuatu untuk bangsa ini. Satu hal yang sangat perlu diingat adalah dalam konsep pendidikan liberalisme, aspek yang tentu sangat menunjang adalah kemampuan pendidik, kurikulum, materi pelajaran dan sarana pendukung terwujudnya atmosfer pendidikan yang tidak hanya kompetitif tapi juga saling membangun dan memberi semangat.

    Sekarang idenya adalah mari kita coba gunakan konsep pendidikan liberalisme dan kemudian disesuaikan dengan konsep budaya lokal kita sebagai orang Indonesia, bukan hanya meng’copy mentah-mentah🙂

    Jaya Pendidikan Indonesia!
    Terima kasih untuk tanggapannya.

  5. Sebuah essay yg sangat bagus. Hal2 yg kasat mata oleh kita tapi tak nampak oleh birokrasi pejabat pendidikan.

  6. Bener tuh.Saya sebagai seorang pelajar yang baru kelas 9 SMP merasa stress akibat jahatnya sistem pendidikan Indonesia yang terlalu menekankan nilai KKM.Semakin diperparah dengan banyak ulangan,apalagi UN.PR juga tidak menjamin siswa menjadi pintar.Memang,sekarang kita menjadi robot Pendidikan Indonesia.Buktinya,banyak orang yang selalu ranking 1 di sekolah.Nyatanya,setelah masuk dunia kerja malah menjadi pengangguran tanpa alasan yang jelas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s