Fenomenologi & Sekolah Alam ..-_-..

Dalam melakukan penelitian atau studi sosial, paradigma atau pendekatan kualitatif merupakan salah satu paradigma yang kerap kali digunakan untuk menjelaskan dan mendeskripsikan mengenai fokus kajian dan tujuan dari penelitian yang dilakukan. Salah satu pendekatan penelitian dalam pendekatan kualitatif yang akan digunakan oleh peneliti untuk menjelaskan fokus kajian dan rumusan masalah yang diteliti adalah model pendekatan fenomenologi. Menurut Alasuutari (dalam Bajari, 2008), menyatakan bahwa “….phenomenology is to look at how the individual tries to interprent the world and to make sense of it” – dapat diartikan bahwa fenomenologi (digunakan) untuk melihat kepada bagaimana individu mencoba untuk menginterpretasikan dunia dan membuat penalaran atasnya. Selanjutnya, Husserl (Cuff and Payne, 1981: 122 dalam Bajari, 2008) menyatakan bahwa, “Phenomenology referred to his atempt to described the ultimate foundations of human experience by ‘seeing beyond ‘ the particulars of everyday experiences in order to describe the ‘essences’ which underpin them.”  – fenomenologi mengacu kepada usaha seseorang untuk mendekripsikan dasar utama dari pengalaman manusia dengan “melihat (makna) dibalik”, terutama di dalam pengalaman-pengalaman sehari-hari untuk mendeskripsikan sebuah makna yang menopang mereka. Singkatnya, Fenomenologi sendiri adalah merupakan sebuah landasan teoritis dan perspektif penelitian yang berusaha memahami kebudayaan lewat pandangan pemilik budaya atau pelakunya. Pemikiran fenomenologi dalam sejarahnya sangat dipengaruhi filsafat Edmund Husserl, Alfred Schultz, dan Betrand Russell. Weber sampai batas-batas tertentu juga ikut mewarnainya dengan tekanan utama pada Verstehen, yaitu pengertian interpretatif terhadap pemahaman manusia.

Fenomenologi merupakan istilah generik yang merujuk kepada semua pandangan ilmu sosial yang menganggap bahwa kesadaran manusia dan makna subyektif sebagai fokus untuk memahami tindakan sosial (Nananton dalam http://www.teguhimanprasetya.wordpress.com). Fenomenologi merupakan pandangan berpikir yang menekankan pada fokus kepada pengalaman-pengalaman subjektif manusia dan interpretasi-interpretasi dunia (Moleong, 2007; 15). Dalam pemahaman lain, fenomenologi diartikan sebagai sebuah pengalaman subyektif atau pengalaman fenomenologikal dan sebagai suatu studi tentang kesadaran dari perspektif pokok seseorang (Husserl dalam Moleong, 2007: 14). Yang ditekankan oleh kaum fenomenologis ialah aspek subyektif dari perilaku budaya seseorang. Mereka berusaha untuk masuk ke dalam dunia konseptual para subyek yang ditelitinya sedemikian rupa sehingga mereka mengerti apa dan bagaimana suatu pengertian yang dikembangkan oleh mereka di sekitar peristiwa dalam kehidupannya sehari-hari (Moleong, 2007: 17). Peneliti berusaha masuk ke dalam dunia subyek yang ditelitinya sehingga peneliti mengerti apa dan bagaimana suatu pengertian dikembangkan dalam kehidupan subyek sehari-hari. Wawasan utama fenomenologi menurut Aminuddin (dalam Teguh; 2008), adalah “pengertian dan penjelasan dari suatu realitas  harus dibuahkan dari gejala realitas itu sendiri”. Bagi fenomenologi, penentuan pengertian dari gejala budaya semata-mata tergantung individu. Refleksi individual menjadi “guru” bagi individu itu sendiri dalam rangka menemukan kebenaran. Pandangan setiap orang dalam menyikapi sesuatu merupakan representasi dari pemahaman individu tersebut serta sebagai akibat dari pengalaman yang dirasakannya.

Fenomenologi bertujuan mengetahui bagaimana seseorang menginterpretasikan tindakan sosialnya dan orang lain sebagai sebuah yang bermakna (dimaknai) dan untuk merekonstruksi kembali turunan makna (makna yang digunakan saat berikutnya) dari tindakan yang bermakna pada komunikasi intersubjektif individu dalam dunia kehidupan sosial. Dalam fenomenologi, setiap individu secara sadar mengalami sesuatu yang ada. Sesuatu yang ada itu kemudian menjadi pengalaman yang senantiasa akan dikonstruksi menjadi bahan untuk sebuah tindakan yang bermakna dalam kehidupan sosialnya. Manakala berbicara sesuatu yang dikonstruksi, maka tidak terlepas dari interpretasi pengalaman di dalam waktu sebelumnya. Interpretasi itu sendiri berjalan dengan ketersediaan dari pengetahuan yang dimiliki  (http://www.atwarbajari.wordpress.com).

Berangkat dari konstruksi pemahaman budaya seseorang lewat pandangan subyektif dari pemilik budaya atau pelakunya, serta berdasarkan pertimbangan peneliti dengan melihat dari rumusan masalah dan tujuan penelitian, maka menurut peneliti, fenomenologi adalah metode yang paling tepat untuk digunakan dalam proses penelitian dikarenakan penekanan dari fenomenologi  yang terletak pada aspek subyektif individual dalam memandang budayanya serta dari perilaku budayanya. Menurut fenomenolog Edmund Husserl (Muhadjir dalam Teguh, 2008), obyek ilmu selain yang bersifat empirik (sensual), juga mencakup fenomena yang tidak lain terdiri dari persepsi, pemikiran, kemauan dan keyakinan subyek yang menuntut pendekatan holistik, mendudukkan obyek penelitian dalam suatu konstruksi ganda, melihat obyeknya dalam suatu konteks natural, dan bukan parsial.  

Model pendekatan dan metode ini dipandang peneliti sebagai metode yang mampu membentuk hasil deskripsi yang menggambarkan dengan cukup detail dan holistik mengenai latar belakang kemunculan sekolah alam sebagai lembaga pendidikan alternatif. Metode fenomenologi akan digunakan untuk menggambarkan secara mendalam mengenai latar belakang dan alasan kemunculan sekolah alam sebagai sebuah lembaga pendidikan alternatif, yang dengan menggunakan perspektif pemikiran fenomenologi, maka peneliti akan berusaha masuk ke dalam dunia konseptual subyek yang diteliti dan mencoba melihat bagaimana cara pandang subyek terhadap pemaknaan kemunculan sekolah alam sebagai lembaga pendidikan alternatif. Selain latar belakang, peneliti juga akan melihat dari sudut pandang obyek penelitian mengenai proses pembentukan kurikulum – yang berbeda dari kurikulum di sekolah-sekolah konvensional, alasan mengapa kurikulum yang digunakan memiliki bentuk yang demikian, dari perspektif individu demi individu, kemudian implikasinya pada metode pembelajaran di dalam ruangan kelas, serta perilaku anak. Kesemua elemen ini pada akhirnya akan membangun sebuah logika berpikir dan mampu memberikan penjelasan mengenai pembahasan sebuah sekolah alam sebagai lembaga pendidikan alternatif secara lebih komperhensif.

One comment on “Fenomenologi & Sekolah Alam ..-_-..

  1. Ass..
    Artikel2nya bagus mas..
    Apakah ini berdasarkan penelitian?
    Krn saya tertarik mau meneliti sekolah alam..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s