..Terus..Peran Guru apa dong..T_T..?

Hmm…pernah ga dari kita yang sadar, yang berpikiran kritis.,,kenapa seorang guru itu terkadang (atau selalu) melakukan dominasi kelas?

pernah liat ade kamu pas belajar itu selalu mati-mati’an bersikeras untuk menggunakan cara mengerjakan soal matematika yang diajarin guru sebagai yang paling benar?paling ‘mantep? jadi pas diajarin cata lain, ade kita ga mau dan bilang “takut salah, ga sama kaya cara pak guru..”, Pernah?

Ko bisa gitu ya…? hmmm..secara runut-runut ^^,,kita bkala nemuin kalo’ Pada awalnya, hal ini bisa dirunut dari kebijakan pendidikan sentralisitis yang dibuat oleh pemerintah yang bersifat top-down. Kebijakan yang ada merupakan hasil pemikiran kalangan atas, tanpa melibatkan guru dan praktisi pendidikan dalam proses dan proses perumusan kebijakan. Pada akhirnya kebijakan yang dibuat juga terkadang tidak sesuai dengan yang dibutuhkan dan yang terjadi di masyarakat. Efek lebih lanjut yang terjadi adalah perilaku demikian (top-down) yang diteruskan guru kepada peserta didik. Guru terbiasa untuk ‘mengajar’ dan bukan ‘mendidik’. Anggapan yang terjadi adalah guru sebagai pusat ilmu pengetahuan di dalam kelas, peserta didik adalah tabung-tabung kosong yang akan dan harus diisi. Proses pendidikan akhirnya bersifat negatif karena yang terjadi adalah transfer pengetahuan yang tidak seimbang dan berat sebelah. Efek berbahaya selanjutnya adalah ilmu pengetahuan yang diajarkan dan dibungkus oleh guru  menjadi ‘kue ilmu pengetahuan’ ini ‘disuapkan’ ke peserta didik seakan disertai dengan pemberitahuan bahwa rasa ‘kue’ memang seperti itu dan itulah satu-satunya rasa kue. Emosi dalam kebanyakan sistem sekolah selalu dikendalikan, untuk dipisahkan dari sistem intelektual. Ini yang menyebabkan lenyapnya ‘rasa ingin tahu’ (curious) pada diri anak ketika memasuki sekolah. Yang dijejalkan dalam otak anak pikiran anak hanya gagasan ‘siap pakai’ dimana pengetahuan diperoleh, ditangkap dan dimanifestasikan secara fisik. Di sini pemikiran orisinal tidak dikembangkan secara optimal. Yang dipelajari anak dalam sekolah hanyalah timbunan informasi yang tercerai berai tanpa sistematisasi (Prasetyo, Eko, 2006 : 112).

Peran guru menjadi sedemikian ‘mengerikannya’ sebagai sumber ilmu pengetahuan di dalam ruang kelas bagi peserta didik. Guru menjadi raja yang mendoktrin materi pelajaran sehingga semua yang tidak sesuai dengan yang guru ajarkan di ruang kelas adalah salah. Dari beberapa cerita yang saya dengar, bahkan beberapa orang tua juga  merasa heran ketika membantu anaknya mengerjakan pekerjaan rumah, bahwa sebuah pekerjaan rumahpun yang tidak dikerjakan dengan cara dan metode yang diajarkan oleh guru dapat dinilai salah oleh guru yang bersangkutan. Mengutip dari pemikiran Paulo Freire (Paulo Freire, 2000: xi) tentang pendidikan gaya bank (banking concept of eduction), peran guru yang selama ini masih terjadi di dalam kelas dapat dituangkan seperti berikut :

  1. Guru mengajar, murid belajar
  2. Guru tahu segalanya, murid tidak tahu apa-apa
  3. Guru berpikir, murid dipikirkan
  4. Guru bicara, murid mendengarkan
  5. Guru mengatur, murid diatur
  6. Guru memilih dan memaksakan pilihannya, murid menuruti
  7. Guru bertindak, murid membayangkan bagaimana bertindak sesuai dengan tindakan gurunya
  8. Guru memilih apa yang akan diajarkan, murid menyesuaikan diri
  9. Guru mengacaukan wewenang ilmu pengetahuan dengan wewenang profesionalismenya, dan mempertentangkannya dengan kebebasan murid-murid

10.  Guru adalah subyek proses belajar, murid obyeknya.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Dr. Nugroho, seorang pakar pendidikan dari Universitas Negeri Semarang, Strategi pembelajaran seorang guru memiliki peran besar dalam menjaga kondisi emosional siswa. Jika guru bisa menyajikan materi pelajaran secara rileks dan masuk lewat masing-masing pintu kecerdasan siswa, maka pembelajaran akan mampu menjaga stabilitas dan kematangan emosional, sehingga kemungkinan siswa untuk mengalami academic stress dapat diminimalisir. Namun sayangnya, temuan studi kasus yang dilakukan beliau menunjukkan bahwa strategi pembelajaran kebanyakan guru lebih terfokus kepada usaha untuk mengelola materi pelajaran dan memilih metode serta media penyampaian, ketimbang secara cermat menelaah kebutuhan belajar siswa (http://prov.bkkbn.go.id/article_semiloka, 2008). Metode mengajar guru yang kurang komunikatif dan tidak bernuansa dialogis menyebabkan kemampuan analisis siwa menjadi berkurang. Dalam penelitian yang dilakukan oleh staf ahli Menristek bidang pendidikan, Dr. Ir. Abdul Aziz, anak-anak di Indonesia hanya dapat menguasai 30 % persen materi bacaan, bahkan mereka sulit sekali menjawab soal-soal berbentuk uraian yang  memerlukan penalaran.

Permasalahan-permalahan yang diungkapkan diatas kemudian mulai memunculkan pertimbangan dan reaksi dari masyarakat mengenai sistem pendidikan  yang dimanifestasikan dalam sistem persekolahan di Indonesia. Lambat laun, reaksi pemikiran dari masyarakat pun memunculkan model pendidikan lain yang dirasakan berbeda dari model pendidikan konvensional yang selama ini ada. Model pendidikan lain ini terwujud ke dalam sebuah model pendidikan yang dikenal dengan model pendidikan alternatif. Dengan melihat dari permalahan-permasalahan yang timbul dalam sistem pendidikan dan sistem persekolahan konvensional, maka model pendidikan alternatif ini mulai dirancang untuk menjadi jawaban atas kekurangan-kekurangan yang selama ini dirasakan. Model pendidikan alternatif ini umumnya menggabungkan aspek intelektual, emosional, spiritual serta berbagai keterampilan hidup yang dirasa kurang didapatkan dari sekolah-sekolah konvensional.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s