Guru..pahlawan..dan pekerjaan..

Guru…pahlawan.. dan pekerjaan…

 

 

            Dewasa ini, saat zaman sudah berubah dan waktu sudah menjadi sesuatu yang berharga dan mempunyai nilai yang tinggi dan (mau tidak mau) komersial, zaman dimana uang adalah “tuhan”, keinginan ‘segolongan’ manusia yang disebut guru dalam memanifestasikan ilmu dan pengetahuan yang dimilkinya ternyata juga sudah jauh mengalami pergeseran. Pada saat ini, pandangan masyarakat mengenai pekerjaan “Guru”. Image yang sudah tertera dan dimiliki oleh seorang guru dalam melakukan pekerjaannya pada saat ini ternyata sudah tidak jauh berbeda dengan pekerjaan yang dijalani oleh orang-orang lain pada umumnya, berbeda dengan saat saya masih kecil atau bahkan pada zaman orang tua saya. Pada zaman atau setidaknya saat itu, saat saya masih kecil, seringkali saya diajarkan dan kerap kali saya mendengar suatu kalimat yang dikatakan oleh guru dan orang tua saya bahwa “Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa”, saya yakin ada perasaan bangga yang menyusup ke dalam dada setiap guru(pada waktu itu) setiap mendengar kalimat itu, ada suatu rasa bangga yang sangat mendalam serta rasa dedikasi yang tinggi kepada pekerjaannya dalam mendidik generasi muda yang diharapkan dapat menjadi kader-kader penerus dan pembangun bangsa di masa depannya.

Birokratisasi profesi guru di zaman Orde Baru (Orba) telah menghasilkan mayoritas guru bermental pegawai. Orientasi jabatan sangat kental melekat dalam diri para guru. Jabatan guru utama-sebagaimana layaknya seorang guru besar di perguruan tinggi-tidak lagi dilihat sebagai tujuan puncak karier yang harus diraih seorang, melainkan sudah lebih mengacu kepada jabatan seperti kepala sekolah ataupun jabatan-jabatan birokrasi lannya baik di tingkat sekolah sendiri, di dinas-dinas pendidikan maupun di dalam departemen pendidikan. Semangat profesionalismenya luntur seiring terjadinya disorientasi jabatan ini. Suatu hal yang ironi bagi seorang tenaga pendidik. Seorang guru yang dulunya merupakan seorang individu yang memang memiliki hasrat untuk menjadi seorang yang tidak hanya menyalurkan pengetahuan yang dimilikinya, tetapi juga kemampuan, kreatifitas, pemikiran dan sikap untuk bertindak ataupun sikap-sikap positif lainnya, sekarang ini malah menjadi seperti seorang ‘pemerhati dan pemupuk kapitalisme’ untuk dirinya sendiri dan kurang memperhatikan aspek-aspek yang seharusnya diperhatikan seorang guru dalam mengajar. Guru seperti hanya merupakan sebuah “sedotan atau pipa” yang digunakan untuk menyalurkan sesuatu yang disebut pengetahuan, monoton, kaku, tanpa mempunyai kreatifitas untuk bisa mengembangkan daya pikir, pola ajar dan metode pengajaran yang baik untuk diri dan siswanya sendiri.

Birokratisasi jugalah yang membuat guru didalam kelas hanya seperti agen-agen kekuasaan, dimana sang guru memerankan dirinya sendiri sebagai pentransfer nilai-nilai ideology “kekuasaan” yang tidak mencerahkan kepada anak-anak didiknya untuk membangun suasana pembelajaran yang demokratis dan terbuka. Anak didik lebih ditempatkan sebagai “bawahan-bawahan” baru yang harus tunduk dan patuh kepada guru sesuai dengan juklak dan juknis atau atas nama kurikulum. Mau atau tidak mau kita memang harus mengakui hal ini karena memang  dilema seperti inilah yang terjadi di depan mata kita sekarang. Seharusnya guru menjadi seperti air yang mampu bergerak sendiri serta mampu menyesuaikan diri sesuai dengan situasi dan keadaan.

 Seorang mahasiswi dari Universitas Negeri Jakarta jurusan Pendidikan Matematika 2005 pernah berkata kepada Saya; “Guru itu adalah orang yang mengurusi dan memperhatikan anak orang lain tetapi bahkan kurang atau tidak terlalu memperhatikan anaknya sendiri, saking repotnya mengerjakan tugasnya sebagai seorang guru”. Suatu ungkapan yang memang benar jika dipikirkan dan dikaji secara logika.

            Terkadang saya sempat berpikir juga bahwa seorang guru apabila dilihat dari sisi perolehan finansial atau pendapatannya sebagai seorang “pahlawan”, sangat tidak sesuai dengan apa yang telah dilakukannya. Seorang guru harus pergi kesana kemari, mengajar di beberapa sekolah yang berlainan, dengan jarak yang relatif untuk mendapatkan tunjangan kehidupan guna memenuhi kebutuhan keseharian yang semakin mendesak. Dengan adanya Undang-Undang (UU No.14 tahun 2005) mengenai kenaikan pendapatan (gaji) guru, tentu saja hal ini menjadi suatu daya tarik kembali atau paling tidak pekerjaan sebagai guru yang tadinya dipandang sebelah mata, dilirik kembali, apalagi setelah mengetahui bahwa dalam UU itu pendapatan guru dan dosen akan dinaikkan sebesar 2 kali lipat dari pendapatan sebelumnya.

            Tapi sayangnya hal ini hanya bisa dinikmati oleh guru yang sudah berserifikat (memiliki tingkat lulusan setara S1), dengan kata lain hanya sebagian dari jumlah keseluruhan guru yang ada di Indonesia  saja yang akan mampu merasakannya. Jumlah guru di Indonesia saat ini telah mencapai lebih dari 2,7 juta. Dari angka ini, kita dapat membaginya menjadi dua kategori, yaitu guru tingkat sekolah menengah dan guru tingkat SD dan TK. Pada tingkat  sekolah menengah keadaan tidak begitu mengkhawatirkan, sekitar 62,08 % guru sekolah menengah telah mengantongi ijazah S1. Justru yang memprihatinkan adalah tingkat pendidikan tenaga pengajar di level SD dan TK, dari sekitar 1,3 juta guru SD, hanya 8,3 % tenaga pendidik yang telah memenuhi kualifikasi akademik S1. Kebanyakan guru SD hanya berkualifkasi D1 atau bahkan berada pada tingkat dibawahnya.

UU guru dan dosen juga memberikan sinyal bahwa kesejahteraan guru akan ditingkatkan. Guru yang memenuhi kualifikasi akademik dan mengantongi sertifikat sebagai pendidik dijanjikan akan mendapatkan sebesar1 kali lipat gaji pokok, belum lagi tambahan tunjangan fungsional sebesar 500.000 perbulan. Di beberapa daerah, seperti di DKI Jakarta, Pemerintah Daerah bahkan memberikan insentif tambahan yang cukup signufikan kepada guru berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS). Dengan tunjangan dari pemerintah daerah sekitar 2 juta rupiah perbulan, penghasilan seorang guru berstatus PNS minimal sebesar 3 juta rupiah. Karena adanya Undang-Undang ataupun dana insentif inilah, maka profesi sebagai guru yang tadinya dan dulunya dianggap sebagai “profesi kelas dua”, mulai diminati kembali. Dan karena hal ini pulalah, maka persaingan secara terbuka akan semakin sulit. Persyaratan pendidikan guru S1 plus pendidikan profesi membuat rekrutmen guru menjadi terbuka.

 

2 comments on “Guru..pahlawan..dan pekerjaan..

  1. Guru…???
    Sebenarnya, siapa sich yang bisa dipanggil atau diberi gelar guru?

    Apa mereka yang bekerja di instansi pendidikan, memiliki aktivitas mengajar di ruang kelas, atau mereka yang memberi dedikasi yang terpatri di dalam diri seorang anak manusia????
    Saya lebih setuju dengan “mereka yang memberi dedikasi dalam diri seseorang” yang pantas diberi gelar guru…karena seorang guru tidak mengenal balasan materi, mereka hanya mengharapkan perbaikan dalam kehidupan. Layaknya pahlawan yang hanya mengharapkan sebuah perbaikan kehidupan (kebebasan/ kemerdekaan).

    Ironisnya, guru tetaplah manusia yang butuh kesejahteraan hidup karena ia masih memiliki tanggung jawab besar dalam hidupnya (keluarga)…yang membutuhkan materi.
    So, bingung???? bagaimana solusinya??
    Pernah baca Novel Toto Chan? yach, begitulah seharusnya seorang guru!
    Hanya mereka yang memiliki hati tulus yang mampu menjalankan tanggung jawab sebagai seorang guru, tapi..kita tetap butuh karakter lain di luar manusia suci ini utnuk terus meningkatkan kualitas.

    Bicara mengenai tunjangan, saya lebih cenderung tunjangan lebih diprioritaskan pada guru SD. Kenapa? karena merekalah yang menanam benih seperti apa anak didiknya nanti. Pengalaman yang pertama kali tak akan pernah tergantikan.

    Setuju??? Setuju!!:)

  2. HAHAHAHAHA!!
    That’s what i call about!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s