Kurikulum Sekolah Konvensional – Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Bagian 1

Kekuasaan pemerintah yang sedemikian besar dalam melakukan kontrol dan intervensi dalam bidang pendidikan juga membuat guru tidak bisa berbuat banyak, mereka juga di’bisu’kan. Saat itu, para guru juga tidak berani dan seakan tidak mau untuk banyak bereksperimen dalam melakukan metode pembelajaran, mengikuti saja apa yang telah digariskan dalam kurikulum dan ketentuan lainnya. Kurikulum menjadi sebuah pedoman baku yang harus ditaati tanpa boleh diubah-ubah dan tanpa banyak protes. Menyikapi hal ini, seorang peneliti dan guru salah satu SMU di Bandung menyatakan, “..Peraturan, konstitusi dan kurikulum – atau apapun yang berkaitan dengan lembaga pendidikan – seharusnya bisa dikritik, diubah dan diganti setiap saat oleh seluruh komponen dan warga pendidikan secara demokratis, bukan hanya oleh penguasa dan elit pendidikan saja.” (http://www.balipost.co.id).

Angin segar baru mulai berhembus setelah Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang kemudian disempurnakan dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) mulai dipergunakan pada tahun 2006. KTSP lahir sebagai akibat dari reaksi dunia pendidikan yang menganggap bahwa selama ini perumusan kebijakan hanya bersifat sentralistik, top-down tanpa mengetahui dengan pasti kondisi lapangan dan tidak melibatkan civitas satuan pendidikan (sekolah). Landasan pemberlakuan KTSP didasarkan pada ;

  1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional.
  2. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan.
  3. Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi (SI).
  4. Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL).
  5. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24 Tahun 2006 tentang pelaksanaan Permendiknas Nomor 22 dan 23 Tahun 2006.

Menurut Permendiknas nomor 24 tahun 2006, KTSP adalah kurikulum operasional yang dikembangkan dan ditetapkan pada tingkat satuan pendidikan (sekolah), baik satuan pendidikan dasar (Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama), maupun menengah (Sekolah Menengah Atas dan Sekolah Menengah Kejuruan), sesuai dengan kebutuhan satuan pendidikan yang bersangkutan serta tetap berdasarkan pada UU, Peraturan Pemerintah dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional. Secara singkat, KTSP adalah sebuah kurikulum operasional pendidikan yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan (sekolah) dengan tetap memperhatikan kompetensi dasar yang ditetapkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BNSP). Konsep KTSP ini merupakan adaptasi dari konsep Pengembangan Kurikulum Berbasis Sekolah (PKBS) yang di Australia dikenal dengan School Based Curriculum Development (SCBD). Pengembangan kurikulum di sini mencakup kegiatan merencanakan, mengimplementasikan, dan mengevaluasi kurikulum yang telah dirumuskan bersama. KTSP dapat dikatakan sebagai upaya tindak lanjut untuk menyempurnakan Kurikulum Berbasis Kompetensi yang diberlakukan sebelumnya, dengan tetap memegang mengacu kepada tercapainya paket-paket kompetensi, yaitu :

  • Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual maupun klasikal.
  • Berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes) dan keberagaman.
  • Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi.
  • Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur edukatif.
  • Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi.

Secara umum tujuan pendidikan KTSP adalah untuk memandirikan dan memberdayakan satuan pendidikan melalui pemberian kewenangan (otonomi) kepada lembaga pendidikan dan mendorong sekolah untuk melakukan pengambilan keputusan secara partisipatif dalam pengembangan kurikulum. Sedangkan secara khusus tujuan diterapkannya KTSP adalah untuk:

  1. Meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah dalam mengembangkan kurikulum, mengelola dan memberdayakan sumber daya yang tersedia.
  2. Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam mengembangankan kurikulum melalui pengembalian keputusan bersama.
  3. Meningkatkan kompetesi yang sehat antar satuan pendidikan yang akan dicapai..

Dari tujuan ini, poin penting yang perlu disambut baik adalah adanya keinginan pemerintah untuk mengajak para civitas sekolah dan masyarakat untuk ikut terlibat serta berinisiatif dalam perumusan kurikulum. Dengan adanya undangan untuk berpartisipasi dalam perumusan kurikulum di tingkat sekolah, maka diharapkan akan muncul tanggung jawab moral di lingkungan masyarakat bahwa pendidikan bukan hanya tugas yang diemban sekolah. Pelibatan masyarakat dalam komite sekolah untuk ikut merumuskan kurikulum juga tercermin dalam prinsip pengembangan KTSP seperti :

  • Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya. Untuk mencapai tujuan pendidikan nasional, peserta didik harus ditempatkan pada posisi sentral sehingga kegiatan pembelajaran berpusat pada peserta didik. Selain itu, pengembangan kompetensi peserta didik disesuaikan dengan potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik serta tuntutan lingkungan. maka kegiatan pembelajaran harus berpusat pada anak didik.
  • Beragam dan terpadu
  • Relevan dengan kebutuhan hidup. Dalam melakukan pengembangan kurikulum, keterlibatan stakeholders dapat dimungkinkan untuk menjamin relevansi pendidikan dengan kebutuhan kehidupan, termasuk di dalamnya kehidupan kemasyarakatn, dunia usaha dan dunia kerja.
  • Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.
  • Belajar sepanjang hayat. Dalam modul panduan KTSP, dikatakan bahwa hakikat belajar sepanjang hayat adalah bahwa kurikulum diarahkan kepada proses pengembangan, pembudayaan, dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. Kurikulum mencerminkan keterkaitan antara unsur-unsur pendidikan formal, nonformal, dan informal  dengan memperhatikan kondisi dan tuntutan lingkungan yang selalu berkembang serta arah pengembangan manusia seutuhnya.
  • Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah.

Selain itu, bentuk undangan kerja sama kepada masyarakat dan penghargaan terhadap budaya lokal juga tercermin dalam pedoman operasional penyusunan KTSP yang menyatakan bahwa perumusan kurikulum di tingkat satuan pendidikan harus memperhatikan beberapa poin seperti;

  • Keragaman potensi dan karakteristik daerah dan lingkungan. Dengan menghargai adanya perbedaan karakteristik di setiap daerah, maka sekolah diharapkan dapat menjadi jembatan dalam memberikan pendidikan dan keterampilan sehingga lulusannya kelak dapat memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik daerah.
  • Kondisi sosial budaya masyarakat setempat. Kurikulum yang dikembangkan oleh satuan pendidikan harus mampu menunjang kelestarian keragaman budaya daerah lokal, sehingga sikap penghargaan dapat tumbuh dalam diri peserta didik.
  • Tuntutan pembangunan daerah dan nasional.
  • Peningkatan potensi, kecerdasan dan minat sesuai dengan tingkat perkembangan dan kemampuan peserta didik. Kurikulum yang disusun harus mampu mengembangkan anak didik secara holistik sehingga pertumbuhan potensi diri anak (afektif, psikomotorik dan kognitif) dapat berjalan optimal. Sejalan dengan itu, kurikulum disusun dengan memperhatikan potensi, tingkat perkembangan, minat, kecerdasan intelektual, emosional dan sosial, spiritual, dan kinestetik peserta didik.
  • Karakteristik satuan pendidikan.
  • Peningkatan iman dan taqwa serta akhlak mulia.
  • Agama.
  • Tuntutan dunia kerja.
  • Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan seni.
  • Dinamika perkembangan global.
  • Persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan.
  • Kesetaraan jender.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s