KTSP ; Antara Teori dan Pengetahuan Holistik

Untuk memperbaiki pola pembelajaran yang bersifat terpisah (antara teori dengan kebutuhan dan kehidupan masyarakat) serta tidak holistik, kemudian untuk mempermudah anak dalam memahami suatu materi, maka lewat KTSP pemenrintah menerapkan pola pembelajaran tematik untuk kelas I sampai dengan kelas III SD. Sedangkan untuk kelas IV sampai dengan kelas VI dilaksanakan melalui pendekatan mata pelajaran. Mengutip penjelasan dari BSNP (2006:35), dikatakan bahwa penetapan pendekatan tematik dalam pembelajaran di SD dikarenakan perkembangan peserta didik pada kelas rendah Sekolah Dasar, pada umumnya berada pada tingkat perkembangan yang masih melihat segala sesuatu sebagai satu keutuhan (holistik) serta baru mampu memahami hubungan antara konsep secara sederhana. Oleh karena itu proses pembelajaran masih bergantung kepada objek konkret dan pengalaman yang dialami secara langsung. Pembelajaran yang dilakukan dengan mata pelajaran terpisah akan menyebabkan kurang mengembangkan anak untuk berpikir holistik dan membuat kesulitan bagi peserta didik mengaitkan  konsep dengan kehidupan nyata mereka sehari-hari. Akibatnya, para siswa tidak mengerti manfaat dari materi yang dipelajarinya untuk kehidupan nyata. Sistem pendidikan seperti ini membuat manusia berpikir secara parsial, terkotak-kotak. Dengan demikian, maka dipergunakanlah pola pembelajaran tematik untuk menjawab tuntutan dari permasalahan yang terjadi.

Seorang konsultan pendidikan dasar, Yuli Kartolo menjelaskan bahwa Esensi pembelajaran tematik bertujuan untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna (meaningfull) bagi peserta didik melalui kajian interdisipliner. Misalnya suatu topik bahasan dapat didekati dari perspektif berbagai disiplin ilmu (Yuli Kartolo. 2007 ; 76). Tim Pengembang PGSD-II dan S2 (1997) mengartikan, pembelajaran tematik adalah suatu konsep pendekatan pembelajaran yang melibatkan beberapa bidang studi untuk memberikan pengalaman yang bermakna kepada peserta didik. Bermakna artinya, peserta didik memperoleh suatu struktur kognitif yang terpadu, konsep-konsep yang dipelajari peserta didik diperoleh melalui pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep-konsep yang sudah mereka pahami. Pada pelaksanaannya, pola pembelajaran tematik atau terpadu dilakukan dengan cara mengintegrasikan minimal dua mata pelajaran dalam satu tema. Misalnya, mata pelajaran matematika, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, agama menggunakan tema yang sama yaitu ‘kegiatan jual-beli di sekitar rumah’. Dengan demikian, maka tema ini akan menjadi pokok pembelajaran dimana setiap mata pelajaran yang terlibat tadi akan membahas tema sesuai dengan disiplin ilmu yang bersangkutan. Misal dalam pelajaran bahasa Indonesia, anak akan diminta untuk membuat karangan singkat tentang kegiatan jual-beli yang biasa dia lihat. Dalam pelajaran bahasa Inggris, anak diminta untuk menyebutkan barang-barang yang biasa dijual / yang ada di pasar dalam bahasa Inggris. Dalam pelajaran matematika, anak diajak untuk menghitung berapa jumlah penjual dan pembeli. Dalam pelajaran agama, anak diajak untuk menjadi pribadi yang jujur ketika ia menjadi pembeli ataupun menjadi penjual. Singkat kata, tema akan menghubungkan mata pelajaran sehingga pemahaman anak diharapkan dapat lebih menyeluruh dan dapat diaplikasikan dengan mudah dalam kehidupannya sehari-hari.

            Keuntungan KTSP yang dilandasi oleh semangat desentralisasi adalah masing-masing satuan pendidikan dan guru diberikan wewenang untuk memodifikasi atau mengembangkan standar isi dan standar kompetensi dari kurikulum. Apabila dalam kurikulum-kurikulum sebelumnya pemerintah mengatur semua hal sampai detail, maka lewat KTSP pemerintah memberikan kebebasan bagi guru dan satuan pendidikan untuk meramu kurikulum operasionalnya dengan memperhatikan kebutuhan lingkungan, keadaan sosial-ekonomis lingkungan. Guru bebas menentukan indikator dan kompetensi dasar sehingga pencapaian akan penguasaan suatu materi (kompetensi) menjadi tujuan utama. Berkaitan dengan hal ini, maka peran kepala sekolah menjadi penting sebagai pihak pertama yang akan menilai dan menyetujui rancangan kurikulum. Kepala sekolah harus mendorong para guru untuk mempertimbangkan penjabaran materi dengan mendahulukan materi yang sangat esensial, barulah menyusul materi lain.

“Dalam KTSP itu ada keluasaan guru untuk membuat indikator. Indikatornya boleh guru sendiri yang ‘nentuin, sebelumnya kanenggak, semua udah digariskan sama pemerintah sampai detail” (Hasil interview dengan Ibu Chandra. Guru SDN Teluk Pucung 09, Bekasi Timur. Pengalaman mengajar selama 26 tahun)

Di satu sisi, angin kebebasan untuk guru dan satuan pendidikan mulai berhembus dengan adanya ketentuan demikian. Tetapi di sisi lain, bisa dianggap menjadi hal berat ketika guru dan satuan pendidikan kurang siap dalam implementasi KTSP. Kurangnya sosialisasi dan pelatihan bagi sekolah dan guru ditengarai menjadi alasan belum optimalnya KTSP diterapkan sehingga bagi sekolah dan guru-guru yang belum siap dan belum paham betul prinsip-prinsip dan acuan operasional KTSP dalam penerapannya membuat pola pendidikan dan pembelajaran tidak berubah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s