Kendala Dalam Penerapan KTSP…o_O..

Kendala lain yang diakibatkan kurangnya pemahaman ataupun kesiapan sekolah dan guru adalah tidak terlibatnya komite sekolah atau stakeholder lain dalam merumuskan kurikulum. Padahal dalam pedoman penyusunannya, KTSP memungkinkan adanya keterlibatan komite sekolah ataupun stakeholder lain untuk bersama-sama mengembangkan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik, lingkungan masyarakat, serta kebutuhan dunia. Hal ini tentu saja berdampak terhadap berjalannya proses pendidikan. KTSP sengaja memberikan wewenang bagi satuan pendidikan, guru, komite sekolah dan masyarakat untuk ikut merumuskan kurikulum. Ketika pihak-pihak ini ikut serta / terjun dalam perumusan kurikulum, maka otomatis pengetahuan mereka mengenai kurikulum, kemajuan sekolah, dan rencana pembelajaran dapat bertambah. Dengan demikian, berjalannya proses pendidikan untuk anak akan dirasakan sebagai tanggung jawab bersama, bukan hanya tugas sekolah dan guru semata. Ketika pihak seperti komite sekolah (orang tua), alumni, pihak masyarakat, dan pihak dunia kerja bersedia untuk duduk bersama dan berembug untuk merumuskan kurikulum yang paling sesuai dengan melibatkan pengetahuan masing-masing, maka kurikulum yang sesuai dengan perkembangan daerah dan lingkungan setempat bahkan dalam lingkup yang lebih luas lagi pun dapat tercipta.

Permasalahan selanjutnya muncul ketika terjadi kontradiksi dimana sekolah dan guru dimungkinkan untuk menyusun kurikulumnya sendiri, tetapi kelulusan masih harus ditentukan oleh negara. Menyikapi hal ini, seorang pemerhati pendidikan mengatakan, ”Perlu dicatat bahwa seturut dengan lahirnya KTSP, pemerintah masih menggunakan Ujian Nasional untuk mengukur mutu, sekaligus menentukan kelulusan siswa. Padahal dalam KTSP tidak dikenal Ujian Nasional, karena namanya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan merupakan kurikulum yang dikembangkan dari kebutuhan dan karakteristik sekolah. Persoalan semakin intens ketika dihubungkan dengan kepentingan bangsa dalam hubungan dengan nation character building.” (http://aguschandra.blogspot.com).

Kemudian untuk hal hasil penilaian proses belajar, seperti yang sudah saya katakan di atas, karena KTSP memungkinkan terjadinya keragaman di antara sekolah-sekolah, maka keragaman penilaian dalam format raport juga sangat mungkin terjadi. Dalam pedoman operasional KTSP dikatakan bahwa kurikulum disusun dengan memperhatikan potensi, tingkat perkembangan, minat, kecerdasan intelektual, emosional dan sosial serta potensi diri (afektif, psikomotorik dan intelektual). Maka –harusnya- hal ini juga tercermin dalam format raport sebagai kumpulan hasil penilaian dari proses belajar siswa yang tergantung dari keputusan sekolah dan guru. Tetapi pada kenyataannya, ada sekolah yang melakukan pertimbangan penilaian dari tiga aspek (kognitif, afeksi dan psikomotorik), tetapi ada juga sekolah yang tetap menilai dalam 1 aspek saja.

“..Untuk raport SD itu beda-beda, ada yang menilai tiga kemampuan (kognitif, psikomotorik dan afeksi), ada yang menilainya langsung jadi satu.” (hasil interview dengan Ibu Rita, guru SD )

“Bentuk raport tergantung dari sekolahnya, kalau negeri, sepengetahuan saya hanya satu nilai, kognitif doang..” (hasil interview dengan Ibu Diah, guru SD Islam ‘Tugasku’, Jakarta Timur)

Selama ini iklim belajar di sekolah-sekolah kental akan penekanan kepada aspek kognitif semata. Hal ini terlihat dari laporan hasil belajar siswa (raport) yang berisi deretan penilaian lewat angka, semua kemampuan seorang anak ditentukan berdasar nilai yang tertera dalam sebuah buku itu. Akibatnya, nilai dan ranking menjadi hal yang sangat diperhatikan oleh civitas sekolah. Sebuah nilai yang terdapat di raport dan sebuah peringkat kelas (ranking) akan menentukan bahwa anak tersebut ‘pintar’ dan ‘tidak pintar’. Cukup disayangkan apabila penilaian yang diberikan dalam raport masih berkisar pada penekanan kepada aspek kogntif saja, padahal KTSP memungkinkan penilaian pada aspek lainnya.

            Walaupun masih menghadapi kendala dalam proses pelaksanaan KTSP, secara garis besar kita patut merasa senang karena sudah ada kemajuan dalam sistem pendidikan kita yang terlihat pada perubahan kurikulum 1994 menuju Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang kemudian disempurnakan dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Intinya, sistem KTSP yang diterapkan oleh pemerintah masih mengalami kendala yang berkisar di kesiapan pihak sekolah dan guru. KTSP yang memungkinkan terjadinya keragaman di setiap sekolah memang menuntut kesiapan dan peningkatan kemampuan dari setiap sekolah dan guru untuk berinisiatif memberdayakan diri dan lingkungan masyarakatnya. Apabila sekolah dan guru memiliki kesiapan serta kemampuan untuk menerjemahkan dan mempertimbangkan kebutuhan anak didik serta keterlibatan stakeholder lain dalam merumuskan kurikulum –beserta semua aspek didalamnya- yang dirasa paling sesuai, maka saya pikir hasilnya akan memberikan perbaikan dan peningkatan dalam sistem pendidikan Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s