Gambaran Singkat Keadaan Kurikulum Sekolah Konvensional di Indonesia (Kurikulum 1994 dan KBK -KTSP)

     Dengan mengacu kepada UU Sisdiknas nomor 20 tahun 2003, tujuan pendidikan  nasional adalah untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta  peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa,  bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang  beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu,  cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Pada bab kesepuluh tentang kurikulum, dikatakan pada pasal 36 ayat 2, bahwa kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik. Selanjutnya, dikatakan juga di ayat 3 bahwa kurikulum nasional disusun sesuai dengan  jenjang pendidikan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan memperhatikan:

a. peningkatan iman dan takwa;

b. peningkatan akhlak mulia;

c. peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat peserta didik;

d. keragaman potensi daerah dan lingkungan;

e. tuntutan pembangunan daerah dan nasional;

f. tuntutan dunia kerja;

g. perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni;

h. agama;

i. dinamika perkembangan global; dan

j. persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan.

Untuk melaksanakan tujuan tersebut, dalam sistem pendidikan Indonesia saat ini kita menggunakan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang dikembangkan lebih lanjut melalui model Kurikulum Tingkat Satuan Pendidkan (KTSP). Secara singkat, kurikulum ini lebih menekankan kepada pengembangan kemampuan siswa untuk dapat berbuat sesuatu yang dibuktikan dengan penyelesaian tugas-tugas dengan standar performa tertentu, memiliki penekanan ke arah kompetensi apa yang dapat dimiliki oleh siswa. KTSP yang diinisiasi mulai tahun 2006 ini dianggap merupakan sebuah jawaban dari permasalahan kurikulum yang dialami oleh Indonesia. Kurikulum yang selama ini telah diterapkan oleh pemerintah dianggap telah mengurangi kreativitas siswa karena sangat menekankan kepada aspek kognitif saja, sedangkan aspek afeksi dan psikomotorik cenderung terabaikan. Akibat selanjutnya, penanaman karakter untuk melakukan analisis dan menimbulkan kreativitas menjadi melemah.

Selain itu, KTSP yang diterapkan dan dikembangkan oleh pemerintah merupakan reaksi dari kurikulum yang seragam dari ujung Indonesia sampai ke ujung Indonesia lainnya yang dianggap telah mematikan kemungkinan pengembangan potensi daerah masing-masing, tidak melihat kondisi nyata di setiap tempat. Efek langsungnya, sekolah yang berada di kawasan pantai harus sama dengan sekolah yang ada di lungkungan industri. Sekolah yang ada di wilayah pedesaan harus sama dengan sekolah yang ada di wilayah perkotaan. Salah satu akibatnya, hasil lulusan sekolah-sekolah (terutama yang tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi) sering kali mengalami shock ketika keluar sekolah, karena sekolah tidak mengajarkan ilmu praktis untuk hidup dalam masyarakat. Apa yang dipelajari di sekolah tidak bisa dipergunakan di dalam kehidupan praktis. Dalam bahasa Eko Prasetyo, ‘anak-anak didik pada hakekatnya kehilangan ‘rasa dan sentuhan’ dengan realitas yang sebenarnya’. Eko Prasetyo juga mengatakan, “Anak sekolah menjadi pintar di sekolah, tapi mereka terisolasi dari dunia luar oleh ilmu mereka sendiri, jadi bebal lingkungan” (Prasetyo, Eko. 2006 ; 115). Efek lebih lanjutnya, dalam waktu yang cukup lama hal ini sangat memungkinkan terjadinya peningkatan jumlah pengangguran di Indonesia. Akan menjadi masalah juga apabila ilmu -yang seringkali bersifat teoritis belaka- yang telah diterima di sekolah tidak bisa secara langsung diterapkan untuk membantu masyarakat di lingkungannya. Menyikapi ilmu teoritis ini Eko Prasetyo mengatakan, “Mereka bisa jadi tidak tahu! Sepertinya mereka tidak punya kekuatan atau kalaupun mereka tahu, kalimat yang dituturkan : kami ikut prihatin. Inilah warisan sekolah, melatih anak-anak untuk menjadi dungu ketika menghadapi sesamanya yang menderita. Siswa sekolah dibiasakan, dalam istilah Jonathan Kozol, menatap penderitaan, kemiskinan tanpa rasa mengamuk. Sekolah seperti sebuah sangkar, dimana anak-anak dikurung dan musti percaya kalau di dunia luar sana, semua masalah sudah ada yang membereskan..” (Prasetyo, Eko. 2006 ; 114).

“..Di sekolah umum, anak-anak pintar teori, contoh, soal nenek-nenek mau menyeberang jalan, di teori anak akan jawab ‘mau membantu’, tapi di riilnya dia mau?” (hasil interview dengan Bapak Ferous. 29 Oktober 2009)

Kemudian, apabila dilihat dari sisi standar isi yang telah ditetapkan Depdiknas, paling tidak sampai kurikulum 1994, kurikulum yang telah diterapkan menurut pakar-pakar pendidikan dinilai terlalu berat (standar kompetensi dan materinya), dan mendewakan aspek kognitif serta terlalu banyak menggunakan jam pelajaran. Endo Kosasih, seorang guru dan sekretaris MGMP dari Subang mengatakan bahwa kurikulum 1994 dapat dinilai sebagai kurikulum yang berat dalam penerapannya. Ketika diberlakukan, banyak sekolah yang terlalu bersemangat ingin meningkatkan kompetensi iptek siswa, sehingga muatan iptek pun dibesarkan. Tetapi yang patut disayangkan adalah SDM yang tersedia belum siap, sehingga hasilnya hanya sekitar 30% siswa yang mampu menerapkan kurikulum tersebut (http://re-searchengines.com). Hal lain yang perlu disadari bahwa siswa bisa menjadi terlalu terbebani dengan banyaknya jam pelajaran dan mempengaruhi perkembangan jiwa anak, terlebih jika orang tua tidak mensupport anak dan cenderung menekan anak untuk belajar. Menurut seorang pakar pendidikan dari Universitas Negeri Semarang (UNS), Dr. Nugroho mengatakan dalam studi penelitiannya bahwa anak-anak yang demikian sangat berpotensi untuk terkena academic stress. (http://prov.bkkbn.go.id). Permasalahan seperti penciptaan suasana formal dan kaku di sekolah, standar jam pelajaran yang cukup lama, serta metode pembelajaran yang kurang atraktif cenderung membuat aspek psikologis dan kreatifitas anak terhambat bahkan hilang. Selain itu, penekanan kepada aspek kognitif semata membuat nilai yang diperoleh anak di setiap tugas, ulangan dan raport menjadi satu-satunya instrumen guru dan sekolah untuk menetapkan seorang anak ‘pintar’ atau ‘tidak pintar’. Selesai. Tidak ada pertimbangan lain. Padahal manusia merupakan mahluk yang mempunyai multiple intelegencies (kecerdasan majemuk). Mendewakan salah satu aspek tanpa menganggap anak mempunyai bentuk potensi kecerdasan lain berarti melakukan ‘dehumanisasi‘ terhadap pribadi anak didik.

Lebih lanjut, kurikulum yang dinilai terlalu berat oleh para pakar pendidikan ini juga akan berhubungan langsung dengan beban materi pelajaran dan standar kompetensi sebagai turunan dari kurikulum yang akan diberikan bagi peserta didik. Hal yang terjadi seakan-akan beban materi harus dikuasai oleh seorang anak dalam rentang waktu yang telah ditentukan, setelah itu diadakan test (ulangan). Terserah anak mau mengerti atau tidak, yang penting guru merasa sudah menyelesaikan kewajibannya untuk memberikan materi. Bagi anak yang bisa memperoleh nilai standar tujuh ke atas, berarti anak tersebut sudah ‘pintar’. Apabila anak belum mengerti atau nilai yang diperoleh berada di bawah standar nilai cukup, maka dianggap salah anak itu sendiri mengapa dia tidak bisa. Setelah itu anak harus memasuki bab pelajaran lain lagi yang terkadang tidak berhubungan dengan bab sebelumnya. Dalam kurikulum sekolah dasar bahkan materi pelajaran yang terlihat (dan terasa) kurang penting bagi kehidupan anak secara praktis dalam umur mereka juga ikut dijejalkan dalam otaknya. Apa boleh buat, demi memenuhi standar kompetensi yang telah ditetapkan.

Guru adalah variabel lain yang mempunyai peran penting sebagai tenaga pelaksana dan mempunyai andil untuk ikut mempengaruhi pelaksanaan kurikulum. Materi dan standar kompetensi yang telah ditetapkan oleh pemerintah dalam kurikulum akan disampaikan oleh guru kepada anak didik. Dalam proses penyampaian ini, guru akan diuji kemampuannya untuk menemukan dan mempergunakan metode pembelajaran yang tepat dan menyenangkan sehingga dapat membuat siswa lebih aktif.  Metode guru dalam melakukan pembelajaran di dalam kelas akan berpengaruh bagi penerimaan anak mengenai materi pelajaran yang diberikan serta image pelajaran tersebut bagi diri anak. Guru yang cenderung kaku dan galak dalam memberikan materi pelajaran akan membuat anak-anak menjadi takut untuk bersikap kritis, bertanya, dan menjawab pertanyaan. Akibatnya anak hanya bisa menurut semua yang dikatakan guru tanpa berani mempertanyakan. Munculah ‘kebudayaan bisu’ seperti yang dikatakan oleh Paulo Freire. Efek lebih lanjut, ketika seorang anak tidak menyukai guru yang bersangkutan maka anak juga akan berpotensi untuk tidak menyukai materinya dan pelajarannya secara keseluruhan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s