Oi..Sebab Internal-eksternal o_O..

Pendidikan adalah sebuah pokok bahasan yang tidak akan pernah habis untuk diperbincangkan. Pendidikan telah berlangsung sejak manusia mulai mengenal peradaban dan tulisan. Pendidikan dapat dianalogikan sebagai sebuah kebutuhan manusia yang mendasar seperti halnya makan dan minum, sebuah basic needs bagi manusia. Melalui pendidikan, seorang individu mendapat pemahaman dan pengertian mengenai banyak hal. Pendidikan menjadi suatu media dimana konsep dan nilai-nilai moral, sikap dan intelektual ditanam dan dipupuk di dalam seorang individu. Dalam proses terjadinya sebuah pendidikan, seorang individu diharapkan untuk dapat memahami dan memaknai setiap elemen yang didapatkannya dalam proses pendidikan sehingga mempunyai kemampuan untuk melakukan analisis, bersikap kritis dan berjiwa ingin tahu (curious). Kesemuanya itu diarahkan kepada pemuaraan dari hasil yang telah didapat dari pendidikan untuk kemajuan diri individu sendiri, lingkungan sekitar serta masyarakat secara luas.

Secara singkat, pendidikan bukan hanya berperan sebagai media untuk menyalurkan pengetahuan mengenai sesuatu (transfer of knowledge), tetapi terdapat juga     didalamnya adalah sebuah proses menemukan dan membangun karakter serta jati diri (finding and character buliding). Lebih luas lagi, pembudayaan (enkulturasi) yang tentu saja meliputi bidang yang sangat luas. Tetapi salah satu hal terpenting dari pembudayaan itu adalah pembentukan karakter dan watak (nation and character buliding), yang pada gilirannya sangat krusial bagi nation building, atau dalam bahasa yang lebih popular, menuju rekonstruksi negara dan bangsa. Pendidikan menjadi sarana bagi pembentukan intelektualitas, bakat, budi pekerti/akhlak serta kecakapan peserta didik (Zubaedi, 2006). Seorang pakar pendidikan mengatakan bahwa pendidikan benar-benar merupakan latihan fisik, mental, dan moral bagi individu-individu, agar mereka menjadi manusia yang berbudaya (Azyumardi, 2006 : ix). Beliau juga menegaskan bahwa pendidikan lebih dari sekedar pengajaran. Pendidikan adalah suatu proses dimana suatu bangsa atau negara membina dan mengembangkan kesadaran diri di antara individu-individu.

            Era pendidikan di Negara Indonesia dimulai dari zaman perjuangan pada tahun 1930-an dimana organisasi-organisasi pemuda dan organisasi pergerakan nasional seperti organisasi Budi Oetomo yang nantinya me’nelur’kan ‘Taman Siswa’, serta kelompok-kelompok intelektual lainnya mulai terbentuk. Bentuk organisasi yang muncul seperti ini pada dasarnya dapat dikatakan sebagai embrio dan konstruksi awal sistem pendidikan dan persekolahan di Negara Indonesia pada masa-masa selanjutnya. Pertanyaan selanjutnya adalah ,‘mengapa organisasi-organisasi seperti ini muncul?’. Hal ini karena dilatarbelakangi mulai timbulnya pemikiran bahwa perjuangan secara moral, pemikiran dan intelektual juga tidak kalah pentingnya dengan perjuangan secara fisik yang telah dilakukan oleh Bangsa Indonesia. Para pendiri organisasi mulai mengerti dan memahami bahwa pendidikan juga mempunyai porsi tersendiri dan dibutuhkan sebagai media penyadaran dan perjuangan seorang individu dan bagi bangsa secara luas.

            Setelah Negara Indonesia memperoleh kemerdekaan, Indonesia telah menyatakan niatnya untuk menciptakan sistem pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dan aspirasinya, dan bukan mencontoh saja model dari praktek suatu negara dagang dan industri yang sudah sangat maju di ujung dunia sana. Namun seperti juga dengan banyak negeri-negeri bekas jajahan di masa itu, Indonesia pun segera menemukan adanya jurang yang lebar antara pernyataan akan cita-cita bangsa yang luhur dengan apa yang ada sesungguhnya berlangsung di ruang kelas apabila pintu telah ditutup dan guru dibiarkan seorang diri dengan 40 anak-anak, sekeping papan tulis dan beberapa buku teks yang sudah ketinggalan zaman (Beeby, 1987 : 7). Lambat laun setelah Indonesia melalui masa-masa restrukturisasi dan revitalisasi, terutama pada masa-masa setelah kemerdekaan tadi, untuk bidang pendidikan sendiri mulai muncul kesadaran untuk berintelektual dan memperoleh pendidikan dan pengetahuan. Hal ini ditandai dengan mulai munculnya sekolah-sekolah dan universitas sebagai manifestasi dari semangat masyarakat untuk menjadi kaum yang terdidik dan terpelajar.

            Selama dua dasawarsa terakhir, khususnya antara tahun 1956–1965, pertumbuhan sekolah dan universitas di Indonesia sungguh luar biasa (Beeby, 1987 :6). Mulai memasuki era pemerintahan Presiden Soeharto, pendidikan juga menjadi salah satu sorotan utama dalam rangka mendongkrak kualitas SDM yang akan digunakan sebagai modal utama dalam melakukan pembangunan ekonomi dan sosial bangsa dan negara. Hal ini terlihat dari program-program Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) yang dimulai dari Repelita I dengan menekankan kepada pendidikan tehnik dan kejuruan –karena saat itu arah pembangunan lebih berfokus kepada pembangunan ekonomi-. Kemudian berlanjut dengan Repelita II yang dikenal dengan Proyek Penilaian Nasional Pendidikan (PPNP) yang merupakan hasil kerja sama dengan lembaga ‘Ford Foundation’.

            Seiring dengan berjalannya waktu, pendidikan di Indonesia terus berkembang sampai saat ini. Tetapi walaupun pendidikan telah memperoleh tempat yang tinggi, tetapi di sana-sini wajah pendidikan masih buram karena banyaknya masalah-masalah yang dihadapi. Kualitas pendidikan yang berkorelasi dengan kualitas SDM yang dihasilkan kemudian mulai dipertanyakan. Pada tahun 2001 yang lalu, hasil perhitungan kualitas manusia Indonesia dalam Human Development Index (HDI) menempatkan Negara Indonesia di peringkat 112 dari 175 negara-negara di dunia (http://elibrary.mb.ipb.ac.id). Berdasarkan laporan dari United Nations Development Program (UNDP) tahun 2004 dan 2005, Indeks pembangunan manusia di Indonesia ternyata tetap buruk. Tahun 2004 Indonesia menempati urutan ke-111 dari 175 negara ditambah wilayah khusus Hong Kong dan wilayah pendudukan Palestina yang diteliti Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Sedangkan tahun 2005 IPM Indonesia berada pada urutan ke 110 dari 177 negara (http:// http://www.undp.org/hdr2004). Hal ini dapat terjadi karena walaupun pendidikan sudah memperoleh tempat yang tinggi, tetapi tidak didukung dengan pemberian porsi yang tinggi sesuai dengan fokusnya. Hal ini dapat kita lihat dari banyaknya sekolah yang berkembang di Indonesia,  tidak serta merta menaikan kualitas pendidikan. Pada tahun 1972, jumlah SD di seluruh wilayah Indonesia tercatat sebanyak 65.569 buah (Beeby, 1987 : 35), dan pada tahun 2003, data resmi Depdiknas dalam ‘Indonesia Educational Statistic’ mencatat jumlah SD mencapai angka 148.964 buah dan menampung 25.697.810 siswa (http://www.unisosdem.org). Dari 148.964 SD yang ada tersebut, hanya 8 sekolah saja yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori “The Prmary Years Program” (http://jejak-maya-annoswt.blogspot.com).

Negara Indonesia mengalami masalah-masalah yang sebenarnya merupakan masalah-masalah klasik (sudah terjadi sejak kurun waktu yang lama), walaupun ada juga yang merupakan masalah kontemporer yang muncul seiring dengan berubahnya masa. Masalah-masalah pendidikan yang tidak kunjung rampung kerap membuat carut-marut wajah pendidikan semakin menjadi-jadi. Masalah yang menyebabkan wajah pendidikan di Negara Indonesia menjadi kurang tertata dapat kita bagi menjadi 2 sebab, sebab eksternal dan sebab internal. Sebab eksternal adalah sebab-sebab yang tidak bersinggungan langsung dengan siswa. Sedangkan sebab internal adalah sebab-sebab yang bersentuhan langsung dengan siswa dan proses pendidikan. Dari dua sebab ini, dapat kita klasifikasikan beberapa poin permasalahan ke dalam masing-masing sebab. Sebab eksternal diantaranya yang pertama adalah anggaran untuk sektor pendidikan yang belum mampu mengakomodasi pelaksanaan dan elemen-elemen pendidikan lainnya secara menyeluruh, yang kedua adalah masalah dana pembiayaan untuk sekolah yang dirasa masih mahal dan kurang terjangkau untuk setiap lapisan masyarakat, permasalahan ketiga yaitu infrastruktur, sarana dan prasarana penunjang kegiatan belajar yang tidak terpenuhi dengan baik di setiap sekolah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s